Sebuah Catatan Di Bangku Antrian TPS

Sebuah catatan di bangku antrian TPS

Alhamdulillah, sudah lebih dari sepuluh tahun dan akhirnya sekarang saya memutuskan untuk tidak golput. Menurut saya ini adalah ajang pemilu pertama yang menunjukkan demokrasi yang sesungguhnya dimana partisipasi masyarakat penuh dalam mendukung calon presidennya. Inilah titik perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.

Mungkin ada sebagian yang sinis terhadap proses dukung mendukung calon presiden. Buat saya persaingan saling mendukung itu hal wajar dan bahkan sangat penting. Tentu tidak dilakukan dengan cara kotor, apalagi fitnah, itu keji. Dalam sebuah pencalonan presiden tentu harus ada persaingan untuk menunjukkan mana yang lebih baik.

Dalam proses inilah semua masyarakat terlibat aktif lalu belajar bagaimana berdemokrasi. Masyarakat juga akan mulai sadar adanya perbedaan dan belajar menghargainya. Saya yakin, keluar dari bilik pencoblosan batin mereka akan kembali lagi untuk bersatu membangun Indonesia. Saya yakin, pemilu yang akan datang masyarakat akan lebih matang dalam memberikan dukungan. Termasuk saya!

Meminjam kalimat dari mas KillTheDJ, “Menang tak jumawa, Kalah lapang dada”. Mari kita terima dan dukung siapapun presiden yang terpilih, karena disitulah demokrasi telah ditunjukkan. Mari kita bangun Indonesia yang lebih baik. Pilpres ini bukanlah babak final, justru inilah babak awal dalam membangun Indonesia bersama presiden baru yang dipilih atas dukungan penuh masyarakatnya.

Rekan rekan semua, saya memohon maaf jika kemarin bahkan mungkin sebelum detik ini saya kerap membuat dukungan dengan cara yang akhirnya membuat Anda sakit hati. Ini semata-mata ikhtiar saya dalam belajar berdemokrasi. Percayalah keluar dari bilik pencoblosan saya akan kembali lagi menjadi saudara dan sahabat bagi kalian. Saya juga telah membuka ruang maaf di hati saya jika ada hal sebaliknya.

I N D O N E S I A !

View on Path

Advertisements