Nasi Mandi Terenak Di Jakarta

Snapseed

Bulan puasa tentu membawa suasana lebih Islami, tak terkecuali berbicara kuliner apalagi menu berbuka, pilihan kuliner dari negara asal berkembangnya agama Islam tentu sangat menarik hati. Nasi Mandi, sajian yang terkenal di Iraq dan sebagian Saudi Arabia saya rasa masih cocok buat lidah orang Indonesia. Saya mau rekomendasikan 3 Restoran Timur Tengah yang menyajikan Nasi Mandi paling enak di Jakarta.

1. Al Jazeerah.
Restoran ini berada di Jl Pemuda, Rawamangun. Menyajikan berbagai menu kuliner Timur Tengah. Menurut selera saya Nasi Mandinya paling enak se-Jakarta. Menu ini disajikan dengan kambing oven.

2. Larazeta
Saya posisikan Nasi Mandinya setara dengan yang disajikan oleh Al Jazeerah. Meskipun pada beberapa menu lainnya biasa saja. Restoran ini juga menjadi galeri furnitur khas Timur Tengah. Jadi bisa selfie-selfie ya. Resto ini berada di bilangan Tebet.

3. Abu Nawas
Pelayanan yang ramah dengan gaya restoran kelas atas. Berada di bilangan Kemang, resto ini menyasar konsumen kelas atas. Abu Nawas juga menyediakan Menu Nasi Mandi yang lezat dan saya posisikan di nomor urut ke-3.

Ada beberapa resto timur tengah lain yang sudah saya icip namun saya belum menemukan Nasi Mandi yang seenak 3 restoran di atas.

Shan’a, Arabian Resto di Cibubur

image

Saya buka pintu, pada langkah pertama langsung disambut wajah tak asing lalu kami saling tunjuk.. “Kamu… …” Kami sama sama saling mengingat wajah dan nama. Ya, ternyata pemilik Shan’a arabian resto adalah Zed kakak kelas saya semasa SMP. Kami saling bersambut hangat, bersalaman.

Sambil berbincang saya memilih menu, pilihan saya jatuh pada nasi kabsah kambing dan istriku memilih nasi mandi kambing. Untuk minuman Zed merekomendasikan teh adeni. Zed cerita awal dia terjun ke bisnis kuliner adalah ide istrinya yang telah berguru masakan arab langsung di negeri asalnya.

Suara bel menyela perbincangan kami, tanda pesanan kami telah siap. Zed menawarkan makan tanpa sendok, menurutnya sunnah rasul dan saya terima tawaran tersebut. Di meja telah tersaji pesanan kami didampingi sambal dan acar. Kata Zed, hati hati sambalnya “nylekit” menjelaskan rasa sambal yang pedas asam.

image

Dari suapan pertama nasi kabsah sudah terasa kualitas masakan yang prima, begitu pula dengan olahan kambingnya. Menurut zed, dia memilih daging domba umur enam bulan. Untuk mendapatkan kualitas daging yang bagus maka cara memotong dan menguliti domba juga sangat diperhatikan.
Saya sempat pula mencicipi nasi mandi. Saya lebih cocok pada nasi mandi dibanding nasi kabsah, bumbu terasa lebih ringan. Zed menjelaskan untuk nasi mandi kambing dimasak dengan arang bakar. Sayangnya acar yang tersaji bukan zalatah (acar timun dan bawang yang dimasak dengan uap panas arang).

image

Perbincangan kami diselingi guyonan khas krapyak kampung asal zed dilahirkan. Ketika saya tanya,”dimana wastafelnya?” Zed menjawab, “wastafele tak gowo mrene bae pok?” Ya, begitulah gaya berbincang orang krapyak, nylekit seperti sambal yang pedas asam.
Makan malam hari ini saya tutup dengan menyeruput teh adeni, teh dengan campuran susu dan rempah. Aroma kapulaga sangat terasa namun tak mengganggu teh dan susunya. Biasanya ketika minum teh dengan susu akan terasa eneg namun teh adeni berbeda. Top!
Sebelum berpisah zed berpesan, jika mau mencoba gule kacang ijo ala ma yeh (pak saleh krapyak) tinggal telpon, zed akan buatkan khusus buat saya. Wis, alamat bolak balik saya ke shan’a arabian resto.

Shan’a arabian resto
Ruko City Walk Citra Gran Blok CW 11 No.12-15