
Memperkenalkan khasanah kuliner lokal kepada masyarakat luas adalah salah satu hal penting untuk kemajuan pariwisata suatu daerah. Selama ini Pekalongan yang saya tahu adalah salah satu kota yang memiliki kuliner lokal yang cukup kaya. Namun, kekayaan kuliner tersebut jarang terekspos ke masyarakat luas.
Upaya beberapa orang yang membuka warung kuliner khas Pekalongan di beberapa kota besar di Indonesia patut diapresiasi. Seperti Rumah makan Bumbu Pekalongan di Serpong, Tangerang Selatan dan Rumah Makan Sewun di Condet Jakarta Timur adalah dua warung yang juga punya basis pelanggan bukan hanya orang Pekalongan. Sehingga banyak orang yang mulai mengenal baik citarasa megono dan juga bersahabat dengan tauto.
Kedekatan yang dibangun mulai dari mulut ini akan membawa dampak baik terhadap kunjungan wisata Pekalongan di masa mendatang. Tentu pekerjaan rumahnya masih panjang, namun paling tidak ketertarikan warga kota besar untuk datang ke Pekalongan sudah mulai terbuka.
Kini, rumah makan yang menyajikan kuliner khas Pekalongan di beberapa kota besar memang mulai bertambah. Salah satunya ada di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Warung Makan khas Pekalongan Pak Uban yang baru berusia satu tahun patut kita apresiasi sebagai warung yang otentik citarasa kuliner Pekalongan. Saya hitung ada sekitar 16 menu khas Pekalongan yang disajikan dan kabarnya akan terus bertambah. Ada Megono cecek (nangka muda), Megono gurih (bambu muda), garang asem Pekalongan, sayur tomat pete, sotong ireng, lodeh, pepes udang, tauto, dan beberapa menu andalan lainnya.
Menurut Ivan, pemilik warung Pak Uban, beberapa bahan masakan didatangkan langsung dari Pekalongan, seperti tauco, terasi, teh, bahkan ikan cucut juga diimpor langsung dari Pekalongan. Langkah itu dilakukan untuk menjaga kualitas dan otentitas masakan.
Saat saya mencoba megono gurihnya saya berikan nilai ditas rata-rata. Megono gurih warung Pak Uban cenderung basah, bumbunya pun pas sehingga ketika digado tanpa nasi tetap menarik. Untuk tauco pada sajian tauto sepertinya sengaja dibuat light. Menurut Ivan tauconya dibeli di pabrik tauco Pulau Djawa Pekalongan. Tauto yang light cocok untuk orang yang belum pernah makan tauto karena tidak bikin kaget lidah.
Secara keseluruhan sajian warung Pak Uban menurut saya sangatlah baik. Pelayanannya pun sangat ramah dan terkadang diselingi dengan kosakata khas Pekalongan seperti kalimat, Tehnya mau dijog? (Artinya: tehnya mau dituang lagi?). Buat orang luar Pekalongan obrolan tersebut tentu menjadi pertanyaan dan rasa penasaran.
Dengan kehadiran warung Pak Uban di Kelapa Gading semoga menambah promosi kuliner khas Pekalongan kepada masyarakat luas. Menurut saya warung Pak Uban adalah sebenar-benarnya duta kuliner khas Pekalongan.



